Memaparkan catatan dengan label Sejarah Dabus. Papar semua catatan

Kesenian Tarian Dabus Kampung Tanjung Bidara  

Posted in


Permainan Dabus dipercayai telah dikenali di negeri Perak sejak 200 tahun yang lalu. Ianya bertapak di tiga tempat iaitu di Bagan Datoh daerah Hilir Perak, Kampung Tanjung Bidara, Pulau Tiga daerah Perak Tengah dan di Kampung Pasir Panjang Laut, Sitiawan
daerah Manjung.

Ada beberapa pendapat mengenai sejarah pengenalan dabus di negeri Perak .
Menurut Encik Nordin bin Ahmad ( Pengkaji sejarah negeri Perak), Megat Terawis dan rakannya Sebana yang diperintahkan mengambil Puteri Limau Purut di Aceh telah membawa balik bersama mereka kesenian dabus ke negeri Perak. Manakala Tuan Haji Salleh bin Ngah Jaafar pula menyatakan bahawa dabus mula diperkenalkan di negeri Perak khususnya di Kampung Tanjung Bidara, Pulau Tiga, Kampung Gajah oleh Tok Pawang Bakar seorang anak jati kampung itu yang pergi merantau ke Aceh. Tok Pawang Bakar kemudianya telah mengajarkan ilmu kesenian dabus ini kepada Tok Tanda Cu Biduan dan kemudiannya diperturunkan pula kepada anaknya Alang Dolah. Bermula dari situ semakin ramai yang mempelajari nya dan terus bertapak hingga ke hari ini.

Berlainan pula dengan cara pengenalan dabus di Kampung Pasir Panjang Laut, Sitiawan. Menurut Tuan Haji Abdul Malik, dabus di situ telah diperkenalkan oleh seorang pedagang dari Baghdad yang bernama Ahmad Mahyuddin pada tahun 1785. Di sini dabus di bawa secara langsung oleh pedagang kerana lokasi kampung tersebut terletak di pesisir pantai yang mana urusan dagangan pada ketika itu adalah melalui Selat Melaka.

Apa pun jua pendapat mengenai sejarah asal-usul Dabus , yang pastinya kesenian ini memang berasal dari dari tanah Arab dan telah diubahsuai mengikut suasana tempat ianya mula bertapak atau diperkenalkan.

“DABUS”, Ritual Kebal Senjata Tajam di Ternate  

Posted in

Artikel asal Oleh : Busranto Abdullatif Doa


Seperti halnya di dua tempat lain di Nusantara yakni; Aceh dan Banten, Ternate dan sekitarnya juga adalah tempat tumbuh dan berkembangnya seni Debus di wilayah timur Nusantara yang ada sejak ratusan tahun lalu. Debus di Ternate disebut Dabus atau Badabus. Ritual ini biasanya dipertunjukkan atau dilakukan dalam suatu hajatan yang berupa upacara ritual untuk menebus kaul seseorang yang pernah mengucapkan hajat akan mempertunjukkan Dabus, apabila ia selamat dari sesuatu musibah atau penyakit berat yang dideritanya.

Pertunjukan Dabus ini terdapat hampir di seluruh jazirah Maluku Utara, termasuk Ternate dan Tidore. Pelaksanaan ritual Dabus biasanya dipimpin oleh seorang guru agama ahli kebatinan, yang biasanya disebut “Joguru” yang dalam pelaksanaannya Dabus ia harus disapa; “Syekh”. Ia dibantu oleh para muridnya/santri yang berjumlah sekitar lima hingga sepuluh orang.

Alat khusus untuk pertunjukkan Dabus terdiri dari dua buah batang besi bulat sebesar ibu jari yang ujungnya diasah runcing dan tajam dan di bagian ujung lainnya dibentuk dengan kayu bulat sebesar kepalan tangan dan dihiasi dengan untaian rantai besi kecil. Alat Dabus di Ternate tidak jauh berbeda dengan yang pernah saya lihat di Banten. Materi ritual lainnya adalah seperangkat alat untuk tempat bakar kemenyan, arang dan semacam Anglo beserta beberapa gumpalan kemenyan yang akan dibakar selama pelaksanaan ritual ini. Sedangkan peralatan pendukung lainnya adalah rebana dan cikir serta kitab zikir yang dipakai untuk mengiringi pelaksanaan ritual.

Pertunjukkan Dabus di Ternate biasanya dilakukan pada malam hari dan lokasi yang dipilih sebagian besar di ruang utama rumah tinggal atau di teras rumah yang agak lebar. Pertunjukkan itu dimulai pada ba’da Isya. Setelah segala sesuatu dipersiapkan oleh pelaksana hajatan. Pelaksana hajat duduk berhadapan dengan sang Syekh lalu didoakan, selanjutnya dipersilakan menyaksikan pelaksanaan ritual tersebut.

Ritual dimulai dengan pembacaan lirik-lirik dan disertai zikir dan semacam mantra-mantra rahasia dalam bahasa Ternate campur Arab. Syekh dengan mengenakan jubah kebesaran (biasanya berwarna putih) duduk menghadap kiblat, dan dikelilingi oleh murid-muridnya serta orang-orang yang ingin berpartisipasi dalam pertunjukkan tersebut dan mengikuti setiap pembacaan doa dan zikir dari sang Syekh. Ritual ini berlangsung sekitar sepuluh menit.

Setelah itu, kemenyan dibakar dan bila asap telah mengepul, alat Dabus yang terbuat dari besi dan berantai tersebut diasapi. Biasanya alat Dabus ini terdiri dari beberapa pasang. (3 sampai 5 pasang). Setelah proses ini selesai, sang Syekh mencoba menikam besi tajam tersebut ke dada dan pahanya untuk memastikan bahwa segala sesuatu sudah berjalan sesuai rencana dan alat tersebut sudah bisa dipergunakan peserta untuk memulai pertunjukkan Dabus.

Sang Syekh memberikan isyarat kepada orang pertama yang memulai pertunjukkan untuk maju sambil jalan jongkok ke dapat sang Syekh untuk bersalaman dan menerima alat Dabus. Pada saat itu irama rebana dan sair-sair serta nyanyian zikir mulai didendangkan oleh peserta lain yang sudah memegang rebana dan kitab zikir.

Setelah menerima ia terus duduk di depan Syekh dan diasapi sekedar saja oleh Syekh kemudian ia menggoyangkan kepala dan badannya ke kiri dan ke kanan beberapa kali lalu membasuh alat Dabus tersebut dari pundak kanan ke atas kepala dan turun ke pundak kiri. Ia lalu mengangkat alat besi tajam tersebut yang sudah dipegang masing-masing di tangan kiri dan kanan dan mencoba menghujamkan ke dadanya bertubi-tubi beberapa kali. Kemudian ia berdiri dan mulai menari-nari sambil menghujamkan besi ke dada bahkan juga ke pahanya. Masing-masing peserta tidak dibatasi waktu, ada yang Cuma lima menit, ada pula yang sampai setengah jam tanpa henti. Kadang kala darah menetes tapi hanya sedikit pada saat pertama memulai pertunjukkan, setelah itu tidak ada darah lagi.

Kadang pula ada peserta ritual yang menanggalkan baju/kaos dan bertelanjang dada. Sebagian besar peserta yang melaksanakan ini rata-rata antara lima hingga sepuluh menit. Pertunjukan diganti lagi oleh beberapa orang lain secara bersamaan. Setiap peserta bisa mengulangi lagi beberapa kali. Dalam pelaksanaannya, biasanya pada menit kedua atau ketiga masih dilakukan dengan hati-hati dan perlahan-lahan, tapi setelah itu semakin keras dan sebagian besar perserta melakukannya sambil berjingkrak-jingkrak bahkan sambil melompat.

Semua para peserta melakukan ritual ini sambil menari sesuai iringan rebana yang terus didendangkan. Menurut mereka, besi tajam yang ditusukkan ke dada atau kulit kita tidak sakit sama sekali melainkan terasa gatal sehingga memacu peserta untuk berjingkrak dan melompat-lompat, bahkan ingin mengulangi lagi setelah turun istirahat beberapa saat untuk memberikan kesempatan kepada orang lain.

Biasanya gerakan tusukan mengikuti irama rebana yang kadang lambat kadang cepat. Seluruh peserta yang melaksanakan ritual Dabus ini dalam keadaan sadar. Namun kadang ada juga sering terjadi kesurupan, dan biasanya peserta tersebut langsung dihentikan oleh sang Syekh, tapi hal ini jarang terjadi.

Sebelum pergantian atau selesai tahapan pertunjukan, setiap orang yang hendak istirahat harus mengembalikan alat Dabus ke sang Syekh dengan cara seperti menerima alat Dabus tadi. Setelah diserahkan ke sang Syekh dan diletakkan di atas sebuah bantal di depan sang Syekh sebelum diambil oleh orang yang menggantikannya.

Peserta yang melakukan ritual ini biasanya tiga sampai lima orang sekaligus, sehingga ruangan yang digunkan untuk ritual ini harus mendukung. Luka-luka kecil akibat Dabus ini kemudian dibacakan mantra oleh sang Syekh dan dibasuh ke lukanya, lalu mereka bersalaman, setelah itu barulah pesertanya berdiri untuk istirahat atau berhenti.

Sementara itu pertunjukkan Dabus terus berlangsung yang dilakukan oleh yang lainnya secara bergilir. Siapa pun bisa menjadi peserta dalam hajatan ini. Ritual ini menjadi tontonan warga di sekitar hingga selesai pada tengah malam. Tidak satu pun peserta Dabus yang terinfeksi sebagai akibat dari pertunjukkan Dabus ini. Anehnya, karena keesokan harinya luka kecil bekas tusukan besi tajam sudah mengering dan hanya meninggalkan bekas kecil yang tidak seberapa.

Dari gambaran pelaksanaan Dabus ini, dapat disimpulkan bahwa Dabus adalah pertunjukkan rakyat yang bersifat ritual karena pelaksanaannya harus dipandu dan dipimpin oleh orang yang mengetahui seluk beluk ritual ini, yaitu seorang “Syekh” dan para “Syaman”.

Setahu saya di Indonesia, ritual Dabus atau Debus seperti ini, hanya terdapat di tiga tempat, yaitu; Nanggro Aceh Darussalam, Banten dan Ternate. Mungkin pula ada juga di tempat-tempat lain, tapi dengan nuansa dan sebutan yang berbeda pula. Wallahu wa’lam.

Dabus Tarian Pahlawan Negeri Perak  

Posted in

Dabus adalah tarian pahlawan negeri Perak. Pada awalnya, ia tarikan oleh lelaki sahaja menggunakan pakaian pahlawan Melayu Perak. Seramai 8 hingga 12 orang akan menari sambil diiringi oleh paluan alat muzik rebana.

Bunyi rebana digabungkan dengan bunyi gemercing daripada "anak dabus" iaitu sejenis besi tajam yang mempunyai beberapa gegelang yang dipasang di bahagian telinga anak dabus.

Dipercayai, tarian ini dipersembahkan bagi menunjukkan keberanian pahlawan Perak kepada tetamu di istana. Pada akhir persembahan, penari akan mencucuk lengan menggunakan anak dabus. Setelah selesai, ketua dabus akan menjampi dan mencuci luka dengan air penawar.

Pada awalnya, selain menggunakan anak dabus, penari menggunakan pelbagai senjata tajam lain untuk menambah kehebatan penari dabus. Diantaranya ialah pisau belati, keris, kapak kecil dan batu guling.

Tarian dabus dipercayai bermula apabila dua pedagang bernama Nakhoda Lembang dan Nakhoda Topah dari Batu Bahara, Sumatera memperkenalkan tradisi ini kepada penduduk tempatan disekitar Telaga Nenas, Sitiawan. Kemudian tarian ini berkembang meluas ke Bagan Datoh dan terus hinggalah ke daerah Kuala Selangor.

Dipercayai, pahlawan Melayu dari kumpulan dabus ini telah membantu mengusir pendudukan Belanda di loji timah Teluk Gedung, Pulau Pangkor. Selain itu pihak British juga telah menggunakan kumpulan pahlawan dabus ini untuk mengalahkan penjahat di perairan Selat Melaka.

Terdapat beberapa pantang larang yang perlu dipatuhi dalam permainan dabus ini. Antaranya ialah hanya ahli dabus sahaja dibenarkan menyentuh peralatan permainan dabus. Anak dabus hendaklah dijaga dengan baik, tidak boleh dicucuk ke tanah. Pemain dabus hendaklah sentiasa bersih pakaian, perbuatan dan perkataannya.

Sejarah Dabus di Perak  

Posted in

Pada tahun sekitar 1600, dua orang pedagang dari Batu Bahara, Sumatera yang cuma dikenali sebagai Nakhoda Lembang dan Nakhoda Topah datang merantau ke Perak dan memulakan penghidupan di Telaga Nenas, Sitiawan. Ketika berada di situ, kedua-dua nakhoda tersebut berehat dan berlatih bermain dabus pada waktu malam sehingga menarik perhatian penduduk setempat dan terus berkembang di situ.

Pedagang Batu Bahara ini tidak tinggal setempat. Mereka kemudian bermudik lagi lalu ke Pasir Panjang Laut dan mengembangkan dabus di situ. Kemudian mereka menghilir lagi sampai ke Bagan Datoh. Di situ juga dabus diperkembangkan. Selepas Bagan Datoh, mereka merantau lagi sehingga ke Kuala Selangor. Di Kuala Selangor permainan dabus terus bertapak kukuh sehingga kini langsung diangkat oleh Majlis Kebudayaan Selangor sebagai tarian tradisional untuk negeri itu.

Memerangi Belanda di Pulau Pangkor

Semasa kompeni menguasai perusahaan biji timah di Perak pada sekitar 1680-1690, mereka telah membina sebuah loji di Teluk Gedung, Pulau Pangkor. Pada masa yang sama, terdapat seorang pahlawan Melayu bergelar Panglima Kulop Mentok yang sangat membenci penjajahan Belanda.

Beliau dikatakan berketurunan kerabat di Raja Bugis dari Sulawesi. Panglima Kulop yang tidak tahan dengan kekejaman Belanda telah membawa diri bersama-sama pengikutnya langsung membuat penempatan di Pulau Sembilan.

Oleh kerana kebenciannya terhadap Belanda, beliau telah memerangi kapal-kapal dagang milik penjajah itu di samping menyerang loji atau Kota Belanda di Teluk Gedung. Orang Belanda menggelarnya lanun. Panglima Kulop bersama pengikutnya diberitakan telah menggunakan ilmu kebatinan dabus ketika menyerang dan bertempur dengan askar Belanda. Ramai askar Belanda yang terkorban. Oleh kerana tidak tahan dengan ancaman Panglima Kulop, Belanda telah lari meninggalkan lojinya di Teluk Gedung.

Inggeris Memperalatkan Orang Dabus

Pada tahun 1826, kerajaan Perak telah meminjamkan kawasan Pulau Pangkor kepada Inggeris, manakala daerah Manjung (dulu Dinding) turut diserahkan kepada penjajah Barat itu pada tahun 1874.

Ketika menggunakan perairan di situ untuk tujuan kepentingan perdagangan, pemerintah British di Pulau Pinang menghadapi ancaman daripada sekumpulan lanun yang megganas di perairan Selat Melaka yang diketuai oleh seorang Panglima yang digelar Daeng Mentanu. Kompeni Inggeris lalu meminta bantuan orang-orang dabus di Manjung untuk memerangi lanun berkenaan. Seramai 100 orang pahlawan dabus dikatakan berjaya menghapuskan lanun-lanun tersebut.

Asal Usul Tarian Dabus  

Posted in

Menurut cerita-cerita mulut, kisah bermula sejak zaman pembinaan Islam, semasa Khalifah Zainal Abidin anak kepada Saidina Hassan dan cucu kepada Saidina Ali. Dalam masa itu telah berlaku perselisihan antara dua puak hingga menyebabkan berlaku peperangan.


Maka dalam usaha menakutkan pihak lawannya kumpulan yang menyokong Saidina Ali mencipta tarian dabus. Kononnya di zaman itu, penari-penari boleh meniti di atas pedang, dihimput dengan batu, meranduk dalam api, digigit ular bisa dan melukakan anggota badan dengn alat dabus. Segala luka dan rasa sakit akan pulih seperti sediakala setelah dijampi oleh ketua kumpulan.

Mengikut penyelidikan yang pernah dibuat oleh pihak tertentu, pada masa ini masih terdapat peminat-peminat tarian dabus di Semenanjung Malaysia. Ia dapat dikesan dalam masyarakat di Daerah Lumut, Pasir Panjang Laut, Setiawan, Teluk Intan, Perak Darul Ridzuan. Tarian ini dipercayai telah wujud di negeri Perak lebih 200 tahun yang lampau.

Apa yang jelas, tarian ini merupakan gabungan tiga jenis kesenian tradisi yaitu nyanyian, tarian dan pertunjukan tentang kebolehan serta keberanian penari-penari menggunakan alat atau senjata tajam yang dicecahkan kepada anggota tubuhnya sendiri.

Sejarah Kesenian Melayu Tarian Dabus  

Posted in


Dabus adalah kesenian yang mempertunjukkan kemampuan manusia luar biasa, seperti kebal terhadap senjata tajam, api, atau minum air keras dan lain-lain. Menurut catatan sejarah, dabus ini sebenarnya ada hubungan dengan tarikat Rifaiah yang dibawa oleh Nurrudin ar-Raniry ke Aceh pada tahun 1637 M. Dabus ini pada awalnya bukanlah sebuah tarian, melainkan salah satu jenis seni bela diri. Oleh karena itu, tarian ini dikenal juga dengan tarian kepahlawanan, karena memperlihatkan “keluarbiasaan” dalam pertunjukannya. Tarian ini hingga sekarang masih berkembang di daerah yang berkebudayaan Melayu.

Dalam sejarah kesenian Melayu, dabus tidak sekedar hiburan semata, tetapi juga sebagai kontribusi untuk mempertahankan kedaulatan serta mengangkat martabat suatu bangsa, seperti yang pernah terjadi di Perak, Malaysia pada masa penjajahan Belanda (1680-1690). Pada waktu itu, ada pahlawan Melayu, bergelar Panglima Kulop Mentok yang sangat membenci penjajah Belanda. Ia menyerang tentara-tentara Belanda dengan menggunakan ilmu dabus, sehingga banyak tentara Belanda yang tewas. Karena kalah, tentara Belanda yang masih hidup akhirnya melarikan diri dan meninggalkan daerah yang direbut oleh Panglima Kulop Mentok tersebut. Namun, dalam konteks kekinian, dabus ini hanya bertujuan untuk hiburan. Tarian dengan semangat kepahlawanan ini dijadikan sebagai simbol-simbol keberanian yang banyak digemari oleh masyarakat ramai.

Konon, tarian dabus diperkenalkan oleh pengikut Sayidina Ali (kaum Syiah) yang dipersembahkan untuk memperlihatkan kehebatan dan kekebalan orang Syiah dalam suasana perang agar pihak lawan tidak berani mengganggu mereka. Kesenian ini pernah berkembang di Aceh dengan sebutan daboh melalui pedagang Arab yang datang ke daerah ini, kemudian menyebar ke seluruh nusantara, di antaranya Banten dengan sebutan debus, Bugis dan Perak (Malaysia) dengan sebutan dabus. Perbedaan ini hanya pada sebutan (dialek) bahasa, tidak pada substansinya, yaitu tarian yang memperagakan bahwa para penari itu kebal dengan senjata tajam atau api, dan lain-lain.

Dari Aceh, sekitar tahun 1600 M, dua orang pedagang dari Batu Bahara, bergelar Nakhoda Lembang dan Nakhoda Topah merantau ke Perak dan tinggal di daerah Telaga Nenas, Sitiawan. Selama berada di daerah ini, mereka selalu berlatih dengan memainkan dabus pada malam hari, sehingga menarik perhatian penduduk setempat, lalu dabus dipelajari dan dikembangkan di sana. Setelah itu, mereka pindah ke daerah Pasir Panjang Laut, Bagan Datoh dan Kuala Selangor. Di setiap daerah tersebut mereka sempat mengajari penduduk setempat, sehingga tarian dabus ini berkembang dengan pesat sampai sekarang. Tarian ini sebenarnya gabungan dari tiga jenis seni: nyanyian, tarian dan pertunjukan keberanian yang dilakukan para penari dengan menusukkan anak dabus atau senjata tajam di tubuh mereka.